Sifat Orang-orang Fakir

  Allah telah menerangkan sifat orang-orang fakir dan menyebutkannya dalam al-Qur’an: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi, orang yang tidak tahu akan menyangka mereka orang kaya karena menjaga diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang dengan mendesak.”  (Q.s. al-Baqarah: 273).

 

Rasulullah SAW. bersabda: “Kefakiran itu lebih indah bagi seorang hamba yang mukmin daripada sabuk kulit yang bagus yang ada di pipi kuda.” (H.r. ath-Thabrani, dari Syadad bin Aus dengan sanad tidak shahih. Akan tetapi ucapan ini lebih dikenal sebagai ucapan Abdurrahman bin Ziyad bin An’am).

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah  berkata:  ” Kefakiran adalah kedudukan spiritual yang mulia. ” 

Ibrahim bin Ahmad al-Khawwash berkata, “Kefakiran itu selendang kemuliaan, pakaian para rasul, jubah orang-orang saleh, mahkota orang-orang yang bertakwa, perhiasan orang-orang mukmin, harta jarahan perang orang-orang arif, harapan para murid, benteng orang-orang yang taat, penjara orang-orang yang berdosa, penghapus kejelekan, pelipatganda kebaikan, pengangkat derajat, penyampai pada tujuan, ridha-Nya Dzat Yang Maha Adikuasa, kemuliaan (karamah) bagi orang-orang baik yang menjadi wali-Nya. Kefakiran adalah simbol orang-orang saleh dan kebiasaan orang-orang yang bertakwa.”

Orang-orang fakir juga memiliki tiga tingkatan :

Pertama, orang yang tidak memiliki apa-apa dan tidak meminta apa pun kepada seseorang, baik secara lahir maupun batin. Ia tidak menunggu apa pun dari seseorang. Jika diberi sesuatu ia tidak mengambilnya. Kedudukan spiritual ini adalah kedudukan al-muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

Sebagaimana dikisahkan dari Sahl bin Ali bin Sahl al-Ashfahani – rahimahullah – yang berkata, “Haram bagi setiap orang yang menamakan dirinya sebagai sahabat kami kaum fakir meminta-minta, karena mereka adalah makhluk Allah Azza wa Jalla yang paling kaya (tidak butuh apa-apa).”

Sebagaimana juga Abu Abdillah bin al-Jalla’ – rahimahullah – ditanya tentang hakikat kefakiran. Lalu ia menjawab. “Lemparkan semua lengan bajumu (seluruh atribut) pada tembok dan katakan, ‘Tuhanku hanyalah Allah’.”

Sebagaimana Abu Ali ar-Rudzabari mengisahkan, “Suatu saat aku ditanya Abu Bakar az-Zaqqaq, ‘Wahai Abu Ali, mengapa orang-orang fakir tidak mengambil bekal di saat mereka membutuhkannya?’ Aku menjawabnya, ‘ Karena mereka merasa cukup dengan Sang Maha Pemberi dan tidak butuh pada pemberian.’

Abu Bakar berkata, ‘Ya, akan tetapi dalam hatiku terbersit pikiran yang lain.’ Lalu aku katakan padanya, ‘Ungkapkan padaku apa yang terbersit pada pikiran Anda.’ Ia pun menjawab, ‘Karena mereka adalah kaum yang wujud ini tak berguna bagi mereka. Sebab Allah telah menjadikan mereka orang-orang fakir, sementara kefakiran itu sendiri tidak membahayakan mereka.

Sebab Allah adalah Dzat Yang Wujud bagi mereka’.”Saya pernah mendengar Abu Bakar al-Wajihi berkata, “Saya mendengar bahwa Abu Ali yang mengatakan hal itu.”

Saya mendengar Abu Bakar ath-Thusi – rahimahullah – berkata, “Dalam waktu yang cukup lama saya mencari tahu tentang makna mengapa teman-teman kami lebih memilih kefakiran daripada segala sesuatu yang lain. Namun tak ada seorang pun yang mampu memberikan jawaban yang memuaskanku. Hingga akhirnya saya bertanya kepada Nashr bin al-Hamami. Kemudian ia memberi jawaban padaku, ‘ Mereka memilih kefakiran karena kefakiran adalah kedudukan spiritual pertama dari beberapa kedudukan spiritual dalam Tauhid.’ Akhirnya saya merasa puas dengan jawaban tersebut.”

Kedua, adalah orang yang tidak memiliki apa pun. Namun ia tidak meminta kepada siapa pun, tidak mencari dan juga tidak memberi isyarat atas kefakirannya. Jika diberi sesuatu tanpa meminta lebih dahulu maka ia akan mengambilnya.

Diceritakan dari al-Junaid – rahimahullah – yang berkata, “Tanda-tanda orang fakir yang jujur adalah tidak meminta, tidak memperlihatkan tanda-tanda kefakirannya dan jika ditawari ia terdiam.”
Sebagaimana juga dikisahkan dari Sahl bin Abdullah – rahimahullah – bahwa, ia ditanya tentang seorang fakir yang jujur, maka ia menjawab, “Ia tidak meminta dan tidak menolak (bila diberi) dan tidak pula menyimpan apa yang ia miliki.”

Abu Abdillah bin al-Jalla’ ditanya tentang hakikat kefakiran, maka ia menjawab, “Kefakiran ialah ketika Anda tidak punya apa-apa. Dan jika Anda punya sesuatu, maka itu bukan milik Anda. Dan sekiranya sesuatu itu belum menjadi milik Anda, maka itu jelas bukan milik Anda.”Ibrahim al-Khawwash – rahimahullah – ditanya tentang tanda orang fakir yang jujur. Kemudian ia menjawab. “Ia tidak mengeluh dan menyembunyikan bekas-bekas bencana atau cobaan yang pernah menimpanya.” Oleh karenanya juga dikatakan, “Sesungguhnya kedudukan spiritual ini adalah kedudukan spiritual orang-orang yang jujur.

Ketiga, adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Jika ia membutuhkan sesuatu ia akan mengungkapkannya kepada sebagian temannya yang ia kenal, yang mana bila ia mengungkapkan kepadanya ia akan merasa senang. Maka kafarat (penebus) permintaannya adalah bersedekah. Ini sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada al-Jariri tentang hakihat kefakiran.

Lalu ia menjawab. “Ia tidak mencari sesuatu yang tidak ada, sehingga ia kehilangan apa yang ada.”.Sebagaimana pula yang pernah ditanyakan kepada Ruwaim. Kemudian ia menjawab, “Hilangnya semua yang ada. Sementara masuknya apa yang ada ke dalam segala sesuatu adalah milik orang lain dan bukan miliknya. Sementara kedudukan spiritual ini adalah kedudukan spiritual orang-orang yang jujur dalam kefakiran.” Sementara itu kefakiran mengharuskan kesabaran.

 

 

 Sebuah kiriman teman. ( Indonesia di awal 2008 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s