TAQDIR

TAQDIR

Terkadang  bahkan terlalu sering kita berpikir Tuhan itu jahat
Angan selalu meninabobokan kita laksana di tengah gurun menemukan Oase
Qodlo dan qodar adalah ketetapan yang tiada mungkin tertukar
Dunia ini bersama isinya sudah dtetapkan secara azali
Indahnya dunia dengan kerlip bintang di tengah malam
Rahasia penguasa Dzi Salam dalam membuat dan mengaturnya

Tiada daya untuk penolakan apa apa yang kita teriama
Akhir dari semua kejadian yang sudah pasti tetap
Qur’an nan suci memaparkan risalah buat kita semua
Dijelaskan semua tiada tersembunyi laksana langit yang tanpa atap
Indahnya kisah,.. atapun  berita akhir manusia yang berkahir pilu
Rendah atau tinggi derajat kita sudah diberikan acuan dalam Al- qur ‘an

Terima atapun tidak terima akankah berubah nantinya
Adilnya Tuhan merupakan  keadilan untuk seluruh jagad
Qudrat dan Irodat sudah pasti  haq Nya
Do’a hamba hanyalah sebuah ikhtiar dari mahluq yang punya iman
Indahnya macam perpaduan  seperti  sayur cap cay
Rasakan nikmat saat semua bumbu dan bahan berpadu pada akhirnya

Terjatuh,…. Tertatih ,.. terseok ,… terpuruk,… janganlah kau habiskan waktu untuk menangis
Alam tidak akan kiamat hanya karena tidak terpenuhi keinginanmu
Qodim  segala ketetapan kejadian yang sedang kau tatap
Derita didunia semoga bahagia di akhiratnya
Indah pada akhirnya disaat engkau bersabar dan tidak menjadi manusia yang lebay
Rindukan keindahan yang abadi selamanya

Termenung dan tercenung bukanlah tiada boleh
Alangkah baiknya kita tafakur  dan bersyukur dengan apa yang kita terima
Qolbu terhenyak dalam syahdu dalam pelukan rindupenuh nikmat sholawat
Diiringi simphoni orkesta binatang malam dan semilir angin membawa sunyi
Indahnya malam kunikmati dalam temaram
Relung hatiku terpenuhi puji pada kekasihku

Terbit ditimur….. dan tenggelam dibarat
Aktifitas rutin yang tiada pernah melompati fase
Qonaah bukanlah pencapaian yang didapat dalam renungan semalaman
Detik demi detik hingga puluhan tahun lamanya
Ikhtiar yang penuh perjuangan dan pengorbanan
Rendahkan ego ,…. Nafikan nafsu untuk sebuah rasa nyaman dan tenang

Tunjung Tanpa Selaga
April , 2014

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….
Dia dan hanya dia…….
Bukan kamu … ia …. apalagi salah satu dari mereka…..
Karena Dia tiada duanya …..

Dia selalu ada dikala aku membutuhkannya …..
Dia selalu memberi … tanpa aku meminta …..
Dia akan selalu memberi walau aku meminta atau tidak meminta….

Dimana dia sekarang …. itu aku tidak tahu ….
Tiada seorangpun yang tahu dia ada dimana….
Tapi dia akan selalu ada untukku …..
Sudah pasti mustahil ada yang serupa dengan dia ……
Tidak ada pula yang bisa menyamai Dia…..
Makanya hanya Dia dan …. hanya Dia .

Aku juga sudah lupa ,… apakah aku hanya sekedarkenal ….
Atau hanya sekedar tahu ……
aku berharap aku mengerti Dia,.. kenal Dia … paham siapa Dia ….
Walau sejauh ini aku masih baru sekedar kenal …..

Entah kapan aku bisa lebih paham …..
Apa kemauan Dia ….
Aku sendiri kadang tidak paham akan kemauanku ….
Semoga suatu saat aku akan paham kemauanku dankemauan Dia ….

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….
Sebenarnya tiada pernah kesendirian …..
Mungkin itu hanya rasa sepi yang menghampiri ….
Tapi itu juga bukan kesunyian …..
Cobalah kau resapi …… engkau akan mengerti itubukanlah sunyi ….

Kau dan aku memang beda……
Dan itu sudah pasti beda ……
Jangan pernah berpikir kita akan bisa sama…..
Selamanya kita tidak akan pernah sama ….

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….
ketika aku diam ,…… hatiku belum tentu diam …
Ketika mataku terpejam … batinku belum tentu juga terpejam ….

Pedih ,… sedih ….. hanya bahasa perasaan ….
Senang ,… bahagia….. juga hanya luapan perasaan ….
Semua itu kadang tertutup oleh raut wajah yang disajikan …..
Mungkinkah engkau tahu yang sedang aku rasakan …

Akankah kau dan aku masih juga terdiam …..
Akankah kau dan aku masih juga tidak pernah mengungkapkan …
Aku akan berusaha tetap diam ….. diam dan diam …..
Aku bukan mengikutimu yang saat kini masih terdiam …. dan terus diam

Kadang diam tidak lebih baik dari pada tidak diam …..
Kadang kita terdiam oleh keadaan yang membuat kita diam ….
Tapi seringnya kita menjadi diam karena perasaan …..
Walau kita tahu perasaan tidak selalu membawa menuju kebenaran ….

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….
Kucoba merapat dan meraba keheningan ….
Melepaskan sekat sekat relung hati …
menyalakan pelita asa dalam kelam qolbu …
Berharap keindahan semesta yang sempurna ….
Biaskan semburat warna kegetiran nestapa ….

Mencoba rasakan sentuhan dan belaian halus rahmat Dzi Salam …
menyandarkan harapan …
Tenggelam dan diam …
Berharap ridho dengan menyatu dalam Asma-Mu ….
Melabuhkan perahu mimpi dalam damai hati bersama-Mu …

Tapi ma’afkan diri hina ini ,…. Wahai dzat yang ter Agung penguasa alam …
Aku hanya bisa mendekat dengan seperti ini …..
Diri hina ini jauh dari kemampuan menyatu dalam Asma – Mu….
Menatap matahari sungguh aku tak mampu …
Terkena terik siang hari saja badanku gosong terpanggang ….
Sungguh aku tak mampu tuk lebih dekat lagi, … apalagi menyatu dengan asma – Mu ….

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….
Keindahan hanya milik – Mu …
Ke – Agungan hanya hak – Mu …
Kesombongan adalah Baju – Mu ….

Aku hanya berharap setitik ridhomu dilautan nikmatmu …..
diri ini hanya ingin sebutir pasir dalam luasnya gurun maghfirahmu …
Ku-berharap tetap mendapat cahaya – Mu menyinari gelapnya kepekatan nafsuku …
Menyibakkan hijab dan sekat qolbu …

Dalam keheningan dan kekosongan ……
Mencari cahaya Nur – wali Alloh sebagai pelita …..
Berharap bisa bertemu dengan Nur – Muhammad … penerang dunia ..
Menghiba dan mengemis semoga nurani terisi nur- Illahi ..

Ya Huwa, Ya man la huwa illahu ….
Assalamu’ alaikum ya ridhonullohi sholihiin ….
Waidayah shodaqoh amiin ya ridhonullohi sholihiin …

Ramdhan sudah dekat

Siang yang begitu terik ,.. menambah gelisah ….
Aku tak bisa tetap terdiam ,… anganku membuncah dan pecah ….
Dan akupun berlari menuju rimbunnya dedaunan ….
Mengharap semilir angin disela rimbun dedaunan …

Sejuk dan indahnya gemulai tarian daun daun mahoni …
kicau burung yang seolah mengiringi dengan symphoni ..
menenggelamkan ku dalam damai ..
menghantarkanku menerobos lorong mimpi …

Sebuah kesunyian yang menenggelamkanku dalam perenungan semu ..
Merangkai angan tentang masa yang telah berlalu …
Detik demi detik yang berlalu meninggalkan banyak titik titik noda…
Banyaknya kesalahan suntukkan anganku ….
tanamkan risau didada ….

Mencoba menghitung hari yang telah kulewati …
Mengingat masa masa indah bahagia dan duka …
Perjalanan panjang yang melelahkan hati ..
Namun harus kujalani dengan bahagia ….

Tersentak aku dari lamunan ……
Takkala selembar koran terhampar di rerumputan ..
Tertera dengan jelas tulisan 15 Jumadil akhir untuk hari ini….
Tinggal dua purnama lagi ramadhan akan menghampiri ….

Haruskah aku bersedih atau gembira …..
Menangis atau tertawa …..
Aku hanya bisa terdiam membisu …
Lidahku kelu dan hatiku terpaku gagu …

Akankah aku sampai pada ramadhan tahun ini …
Akankah ramadhan ini lebih baik lagi …
Ataukah aku akan lebih terpuruk lagi …
Tiada butiran air mata yang tertetes kebumi nan suci ..

Tak juga ada rasa sesal di hati yang membuncah seperti gemuruh ombak …
Tiada pula pilu hati mengingat dosa yang membumi …
Hatiku belum juga luruh dan tertunduk …

Aroma surgawi yang terlintas tak juga menggodaku …
Gemericik riak air sungai menuju samudra magfirah tak juga mempesonaku …
Sedemikian kelam ,.. hitam dan bekukah hatiku …
Sehingga takjua ada rasa gembira ramdhan yang sudah didepan pintu …

Ya Alloh … ya rahman .. ya rahiiim ……
Berilah diri ini pemahaman akan iman ……
Penuhilah hati ini dengan syukur nikmat …
Tumpahkan baroqah-Mu yang penuh nikmat dan ampunan …
Berilah kesempatan diri ini belajar agar bisa selamat …

Ya Alloh … ya rahman .. ya rahiiim ……
Kuingin bisa bersimpuh dengan sepenuh hati ….
Ya Alloh ,… ya Latif … ya Karim ….
Basuhlah kerak nafsu dan kebodohan dari hati ini .

Ramadhan sudah dekat
May 28 , 2011
Tunjung tanpa selaga

Makna Dua Kalimat Syahadat

Makna Dua Kalimat Syahadat

Melafadzkan dua kalimat syahadat dan mengamalkan tuntutannya merupakan rukun dasar agama Islam. Namun sayang, banyak orang yang tidak memahami maknanya. Lebih dari itu, banyak yang meyakini bahwa maksudnya cukup dengan mengucapkannya tanpa memahami dan mengamalkan.


Keutamaan dua kalimat syahadat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya; dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; dan bahwa Isa adalah hamba Allah SWT, Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang sampaikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya; dan bersyahadat pula bahwa surga dan neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, seberapapun amal yang sudah diperbuatnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dan dalan Shahih Muslim dan lainnya, hadits marfu’ dari Utsman radliyallah ‘anhu,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang meninggal sedangkan dia mengetahui makna La Ilaha Illallah pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku adalah utusan Allah, tiada-lah seorang hamba bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa keduanya tanpa ada keraguan sedikitpun pasti ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Dari ‘Ubadah bin al Shamit radliyallah ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah mengharamkan neraka atasnya.” (HR. Muslim)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan dua kalimat syahadat untuk para sahabat. Yaitu untuk mengucapkannya, mengamalkan arahannya, lalu melaksanakan konsekuensinya berupa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan melaksanakan segala macam ibadah, selalu mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi berbagai tradisi  syirik. Inilah makna ucapannya, Laa Ilaaha Illallaah. Sedangkan ikrarnya “Muhammad Rasulullah” mengharuskannya taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengikutinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan dua kalimat syahadat untuk para sahabat.

Yaitu untuk mengucapkannya, mengamalkan arahannya, lalu melaksanakan konsekuensinya berupa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan melaksanakan segala macam ibadah, selalu mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi berbagai tradisi  syirik.

Makna di atas dipahami oleh orang yang mengerti bahasa Arab, termasuk kandungannya yaitu nafyu (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Kalimat ini tidak cukup hanya dilisankan saja, namun harus dipahami maknanya, diamalkan tuntutannya secara dzahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman,

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).” (QS. Al Zukhruf: 86) dan ayat semisal yang menjelaskan ilmu (memahami makna) menjadi syarat kalimat syahadatain.


Karena itulah, ketika seorang musyrik mengucapkan dua kalimat syahadat secara dzahir dia dilindungi dan darahnya dijaga sehingga dia diuji dan dilihat setelah itu. Jika dia istiqamah di atas agamanya dan konsisten dengan tauhidnya serta mengamalkan ajaran Islam, maka dia sebagai muslim. Dia mendapat hak dan kewajiban sebagaimana kaum muslimin lainnya. Jika dia menyelisihi tuntutan syahadatnya, meninggalkan sebagian syariat Islam dengan menentang dan mengingkarinya, atau menghalalkan sesuatu yang sudah sangat jelas keharamanya, maka kalimat ini tidak bisa menjaminnya.


Banyak cendekiawan dan kaum awam pada zaman sekarang, entah karena bodoh atau taklid, telah rusak akidah mereka dan tumbuh kejahilan terhadap dien dan arahan dua kalimat syahadat ini. Bahkan, makna bahasa Arab secara umum, karenanya tidak heran jika mayoritas mereka tidak memahami makna dua kalimat syahadat, terang-terang melakukan hal yang membatalkannya, mencukupkan dengan membacanya berulang-ulang disertai keyakinan mendapat pahala besar, kebaikan, terjaga harta dan darah, tanpa memahami maknanya dan mengamalkan tuntutannya. Karena itulah, sangat dibutuhkan penjelasan makna dua kalimat syahadat ini sebagai iqamatul hujjah bagi orang yang tindakannya bertentangan dengan tuntutannya dan meyakini kalimat syadahat cukup dibaca berulang-ulang lantas mejadi muslim yang sempurna tauhidnya.

Kalimat syahadat tidak cukup hanya dilisankan saja, namun harus dipahami maknanya, diamalkan tuntutannya secara dzahir dan batin.


Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallaah

Para du’at dan ulama sangat memperhatikan materi kalimat tauhid, terutama tentang maknanya. Syaikh Sulaiman bin Abdillah dalam Taisir al ‘Aziz al Hamiid, hal 53 menjelaskan, “Makna Laa Ilaaha Illallaah adalah tidak ada yang diibadahi dengan benar kecuali tuhan yang satu, yaitu Allah yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَاً أَرْسَلْنَا مِن قًبلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِيَ إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهً إِلاَّ أَنَاْ فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al Anbiya’: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (QS. Al Nahl: 36)

Benar, bahwa makna al Ilaah adalah al ma’bud (yang diibadahi). Karena inilah, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada kafir Quraisy, “Ucapkan Laa Ilaaha Illalaah!” mereka menjawab, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5)

Kaum Huud berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (QS. Al A’raaf: 70) Padahal Nabi Huud hanya mengajak mereka kepada Laa Ilaaha Illallaah.

Inilah makna Laa Ilaaha Illallaah, yaitu ibadah kepada Allah SWT dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah maksud kufur dengan taghut dan iman kepada Allah SWT .

Makna Laa Ilaaha Illallaah yaitu ibadah kepada Allah SWT dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah maksud kufur dengan taghut dan iman kepada Allah SWT.

Kalimat agung ini mengandung makna bahwa selain Allah SWT bukan tuhan. Pengakuan tuhan selain Allah SWT merupakan kebatilah terbesar, dan mentapkan dia tuhan adalah kezaliman yang terburuk. Tak seorangpun berhak diibadahi selain Dia, sebagaimana tidak pantas disebut tuhan kecuali hanya Allah SWT. Kalimat ini juga mengandung nafyu ilahiyah (meniadakan ketuhanan) selain Allah SWT dan mentapkannya hanya untuk Allah SWT semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena itu, kalimat ini memerintahkan untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah dan melarang menjadikan tuhan bersama Allah SWT.  Nafyu dan itsbat inilah yang dipahami oleh orang yang diseru kepada tauhid atau kalimat Laa Ilaaha Illallaah.

Semua bentuk ibadah yang hadir kerena pengabdian hati kepada Allah SWT dengan cinta, ketundukan, dan kepatuhan kepada-Nya semata masuk dalam kategori uluhiyah. Maka wajib mengesakan Allah SWT dengan ibadah itu, seperti doa, rasa takut, kecintaan, tawakkal, taubat, menyembelih, bernadzar, sujud, dan macam ibadah lainnya. Wajib memberikan semua itu kepada Allah SWT semata, tiada sekutu bagi-Nya. Lalu siapa yang memberikan sedikit saja dari ibadah tadi kepada selain Allah SWT maka dia telah menjadi musyrik walau ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah; jika tidak mengamalkan tuntutannya, berupa tauhid dan ikhlash.

ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara kepada kafir Quraisy, “Ucapkan Laa Ilaaha Illalaah!”

Mereka menjawab, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5)


Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Dalam mengikrarkan kalimat syahadat harus disertai dengan mengetahui maknanya. Keduanya saling berkaitan, tidak bisa dipisahkan. Maka bagi orang yang mengucapkannya wajib mengetahui maksud kalimat itu, meyakini maknanya, dan menerapkannya dalam hidup.

Dan setelah kita memahami bahwa Laa Ilaaha Illallaah tidak cukup dilafadzkan saja, begitu juga dalam kalimat pasangannya (Muhammad Rasulullah), harus disertai dengan membenarkan risalahnya, komitmen dengan makna dan tuntutannya. Yaitu keyakinan yang menghujam dalam hati bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Tuhannya ‘Azza wa Jalla, Dia telah memandatkan syari’at ini sebagaimana risalah (kerasulan), memerintahkan untuk menyampaikannya kepada umat, dan mewajibkan kepada seluruh umat untuk menerima risalahnya dan berjalan di atasnya. Hal itu bisa direalisasikan dengan memahami beberapa persoalan berikut ini:

Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah spesialis dalam risalah ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al Qashash: 68)

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al An’aam: 124)

Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 47)

Ayat-ayat serupa sangat banyak yang menunjukkan bahwa para rasul dari kalangan manusia yang telah Allah SWT muliakan, Allah SWT pilih dan sucikan, sehingga mereka layak untuk mengemban risalah, penjaga syariat dan agama-Nya, dan menjadi perantara antara Dia dengan Hamba-hamba-Nya. Allah SWT telah menyebutkan kondisi sebagian kaum yang mendustakan para rasul, mereka telah berkata kepada rasul mereka, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga.” (QS. Ibrahim: 10) Lalu para rasul menjawab,

إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Ibrahim: 11)

Terlebih lagi Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penutup para rasul dan seorang rasul terbaik. Allah SWT telah mengistimewakan beliau daripada rasul sebelumnya. Beliau adalah makhluk pilihan yang diangkat menjadi rasul untuk seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia.


Nabi Muhammad maksum dari kesalahan

Umat sepakat bahwa para nabi semuanya maksum (terjaga) dari dosa besar, karena bisa menghilangkan sifat istimewa dan pilihan. Hal ini karena Allah SWT akan mengembankan risalah-Nya kepada para nabi dan rosul agar disampaikan kepada seluruh manusia. Karena itu, mereka harus bisa menjadi teladan bagi umatnya, memberi peringatan agar menjauhi kekufuran dan dosa, kefasikan dan maksiat. Seandainya kesalahan dan kemaksiatan itu nyata maka pada mereka, maka musuh-musuh Islam punya bahan untuk mencela pribadi mereka dan merusak syari’at yang mereka bawa. Ini akan menghilangkan hikmah Allah Ta’ala.

Sesungguhnya di antara bentuk rahmat-Nya, Dia menjaga para nabi-Nya dari mengerjakan kesalahan-kesalahan ini, Allah SWT sendiri juga melarang mereka, menjelaskan keburukan yang ditimbulkannya; sebagaimana Dia mejadikan mereka sebagai teladan dalam zuhud dan menjauhi syahwat dunia yang bisa menyibukkan dari negeri akhirat.

Para mufassir dan ulama telah menyebutkan sebagian kejadian itu, seperti firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya.” (QS. Al An’aam: 52)

Dan firman-Nya,

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al Isra’: 73-74)

Dan kejadian semacam itu yang dilakukannya sebagai bentuk ijtihad karena menyangka ada maslahat yang besar, sedangkan Allah SWT tahu semua itu tidak akan terwujud. Allah SWT telah menjaga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dari melakukan adapun maksiat dan dosa atau membenarkannya karena menghilangkan sifat kerasulan dan sebagai manusia pilihan. Juga karena berseberangan dengan arahan beliau untuk menjauhi kekufuran, kefasikan, dan maksiat. Dari sisi tabligh (menyampaikan) pesan Allah SWT berupa syari’at, maka para ulama bersepakat atas kemaksuman beliau bahkan kemaksuman seluruh nabi dalam menyampaikan risalah Allah SWT , berupa wahyu dan syariat, bahkan Allah SWT telah menjaga beliau dari kesyirikan, zina dan semisalnya, jauh sebelum menjadi Nabi.

Para ulama bersepakat atas kemaksuman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan kemaksuman seluruh nabi dalam menyampaikan risalah Allah SWT, berupa wahyu dan syariat,

Allah juga telah menjaga beliau dari kesyirikan, zina dan semisalnya, jauh sebelum menjadi Nabi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Aku tidak pernah kepingin sesuatu yang biasa dilakukan orang-orang jahiliyah dan aku juga tidak pernah kepingin melakukan keburukan sehingga Allah memuliakanku dengan risalah-Nya.” (Disebutkan oleh al Qadli ‘Iyadh dalam kitabnya al Syifa dan lainnya)

Ibnu Ishaq berkata dalam sirahnya, “ketika Rasullullah telah beranjak dewasa, Allah SWT menjaganya, melinduginya dari kotoran dan keburukan jahiliyah. Ketika ingin memuliakannya dan menjadikannya sebagai rasul –di kala itu berada di atas agama kaumnya- sehingga beliau menjadi seorang pemuda yang paling mulia perilaku dan akhlaknya, paling bagus pergaulannya, paling baik kepada tetangganya, paling gagah posturnya, paling amanat dan paling jauh dari sifat dan akhlak tercela yang bisa mengurangi kemuliaan dan kesuciannya, sampai-sampai mendapat julukan dari kaumnya sebagai Al Amiin (sangat terpercaya). . .”


Oleh: Badrul Tamam
http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2010/03/30/4584/makna-dua-kalimat-syahadat-yang-wajib-diketahui/

Aku Sayang kamu

Mentari sudah mulai beranjak ke peraduannya …..

Meninggalkan Sinaran semburat warna jingga  yang  merona ……

Entah kenapa hatiku terasa penuh dengan rasa cemburu ……

Perasaan yang begitu aneh… dan menggangguku …

Mungkinkah ini yang dinamakan rindu  ….

 

Aku tahu aku harus membunuh rasa itu. …

Aku harus menyingkirkan rasa itu….

Sebelum … kepenatan membelenggu akal dan batinku,….

Atau  Naluriku membeku …..

 

Tahukah apa yang begitu memberatkan bebanku …..

Tahukah kau sayang apa yang membahagiakanku ….

Yang memberatkan kehidupanku ,…  aku terlalu menyayangimu ….

Yang membahagiakanku …. engkau menyayangiku ……

 

Aku tidak mengeluh akan bebanku ,…..

Aku hanya merasa  telah memberikan kebahagiaan semu untukmu ..

Itu yang mebuatku malu dan tak bisa mengangkat wajahku …

Tak ada keberanian tuk menikmati tatapan matamu yang syahdu ….

 

Ma’afkan aku yang meminta terlalu banyak padamu …..

Ma’afkan aku yang terlalu sedikit memberimu arti ……

Bukan maksud mengajakmu dalam penderitaan hati ….

Tiada niat tuk membawa kedukaan untukmu …..

Ma’afkan aku yang terlalu menyayangimu ….. 

 

Mungkin ini bagaikan sebuah kisah indah dalam mimpi  …

Yang disertai  nyanyian kidung hati yang bisa kuberi …..

Hanya penggalan perjalanan yang hati yang tak berujung dengan pasti …

 

Bukan maksudku tuk menjadikanmu sebagai mutiara dipagi hari ….

Yang selalu memancarkan keindahan bias mentari ….

Dan berakhir tanpa bekas terkena terik mentari…..

Aku nda mau engkau terbakar oleh bara asmaraku dan egoku ini ….

 

Semoga engkau tahu …… akan rasa dihati ini ……

Aku tak mau engkau menjadi mutiara embun pagi ….

Aku juga tak ingin engkau menjadi pelangi  ……..

Walau kehadirannya bersama kesejukan gerimis yang membelai hati ….

Ku ingin engkau menjadi rembulan yang selalu pasti menghiasi kegelapan hati ini ….

Walau kadang pias dan pucat sinarannya ….. aku tetap akan menanti …..

 

Hanya satu perlu engkau mengerti ….

Ku tak bisa mencintaimu sepenuh hati ……

Walau tiada keraguan tuk mengatakan engkau selalu kusayangi …

 

 

Hanya perlu engkau mengerti ….

Cinta – Ku sudah ku gadiakan untuk cinta yang lain ,…
Yang lebih abadi dan murni ,…

 

Ya…. Rabbiii….. ya rahman ya rahiim…….

Ku mencintaimu sepenuh hati ……

Ya habibbiy… ya rosul ….. ya Muhammad … …..

Tiada keraguan tuk mengatakan hanya engkau pujaan hati …

  

Aku sayang kamu

Bekasi, 28 Desember 2007

By : Bambang K

Flamboyan

Harus dari mana kuawali tulisan ini ….terbang

Tiada peduli coretan ini tidak bernilai dan menyalahi seni …
Atau orang lain mencibir dan memaki …

Aku hanya ingin sedikit mengurangi kegundahan hati …

 

Sudah melebihi angka sewindu waktu berlalu ….

Tetapi tiada sedikitpun mau beranjak dari angan tuk merengkuhmu …

February beberapa tahun yang telah berlalu …

Aku tergoda oleh pesonanya yang semerbak flamboyan …..

Warna dan keindahannya begitu mempesona  ….

Jangan salahkan aku yang tergoda,……

Kalian  pasti bohong jika  saat melihatnya tak terpesona …

 

Dalam kegundahan asa dan rasa……

Ingin sekali aku menjadi seorang Rahwana …..

Yang begitu tergila gila dengan Shinta ….

Sebegitu dalamnya sehingga rela menukar apa yang dimilikinya hanya untuk Shinta ….
Tapi sayang aku tidak punya kemampuan seperti yang Rahwana punya …

Kalian pasti akan tertawa bahkan mungkin menganggapku sudah gila ….
Tapi jika kau tahu apa yang terjadi sebenarnya antara Rahwana dan Shinta ….
Engkau akan mengerti apa itu cinta  …..

putrikuBegitu besar pengorbanannya demi mendapat cinta Shinta ….

Apa yang dimilikinya di korbankan hanya untuk Cintanya ….

 

Dia begitu memuliakan cintanya….

Walaupun tiap detik selalu membayangkan tubuh Sinta ……

Namun, dia  tak pernah menjamahnya ………..

Karena dia berharap sesuatu yang jauh lebih berharga ……

Yakni cinta …….


Ditempatkannya Shinta dalam istana yang terindah …..

Sehingga tiada semak duri yang akan menggores kulitnya yang indah ….

Tidak banyak orang yang tahu kalau dia berhasil dalam menggapai Cintanya …

Sungguh jarang orang  tahu dia reguk cinta dari Dewi Shinta tanpa menjamah ….

 

 

Tahukah kalian berkat pengorbanannya cinta Sinta goyah dan berpaling padanya,…..

tentu saja tidak semua tahu…….

Shinta tahu Rahwana pasti akan binasa ….

Shinta juga tahu Cinta  sang rama Wijaya tidak sebesar cinta persembahan Rahwana …….
Untuk itu disaat terakhir Shinta  melarangnya maju kemedan laga …

Demi cinta ,… Shinta rela menyerahkan jiwa raganya , …

agar Rahwana tidak  bertanding dengan san Rama Wijaya …

 

Tapi Rahwana manusia yang tidak  suka belas kasihan ataupun minta dikasihani….

Dia hanya tahu ,dia  akan dapatkan cinta Sinta jika bisa mengalahkan Sang Rama Wijaya …

Dia hanya mau memperjuangkan Cintanya dengan gagah dan ksatria …
Walau dia tahu dia akan binasa oleh panah Gunawijaya  sang Rama ….

Karena itu dia  mati dengan rasa puas di hati.

 

Tapi aku tidak bisa  seperti Rahwana …..

Walau perasaan yang ada padaku seperti rasa dan asa yang dirasa Rahwana…

Aku tiada kemampuan tuk mengungkapkan rasa dan asa itu …

Keindahannya tak bisa lagi kunikmati disaat Falmboyan bersemi ..

Dia pergi dan tanpa tahu apa yang ada dihatiku ….

Dia pergi membawa harapanku diringi gugurnya Flamboyan beberapa tahun yang lalu …

 

Duhai sang Bayu sampaikan salam kerinduanku untuknya ….

Hanya denganmu aku bisa mengutarakan keinginanku …

Hanya kepadamu ku bisikan nama yang selama ini mengetarkan hatiku ….

Sampaikan padanya sampai sekarang ku masih tetap memujanya ……

Bisikan padanya flamboyan dihatiku akan selalu mekar disaat kusebut namanya …

Dia tidak pernah berguguran walau musim berganti dan di terjang usia…..

 

Flamboyan.

Tunjung Tanpa Selaga , 7 Maret 2009

 ( Thank’s  for Wong Aksan for inspirate  do you like that .. ?)

 

 

 

Mengapa kita baca AL-QUR’AN, meski kita tak mengerti bahasa arab …

 

 

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an.  Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.  

 

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ? ”

 

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu :  “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

 

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah.

 

Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah. Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk menggati keranjangnya.

 

Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ”

 

Dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi.

 

Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

 

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya ?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

 

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

 

” Cucuku, apa yang terhadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupan kamu”. 

( Kiriman dari saudaraku di www.TahajudCall.org )

MAsih ada harapan …

keindahan dunia itu fana ……

hanya sementara …..

dia akan dibatasi oleh masa …..

 jadikanlah hatimu pelita ….

dia yang akan menemukan keindahan sejati …

 

uban kerentaan ….

tidak pernah malu mengingatkan  …..

cinta ibu akan sepanjang jalan  …..

Cinta kita hanyalah semasa merasa bahagia …..

hanya Cinta rosul pada umatnya yang akan sepanjang usia dunia …..

 

kesalahan manusia itu hakiki ,…..

tetapi akankah kita akan tercebur kedua kali ….

jangan hanya terdiam dan seolah mati ….

 masih ada esok dengan mentari pagi …

pelangi datang setelah hujan ……

masih ada keindahan yang bisa kau ciptakan ….

 

keluarga sakinah mawardah warohmah ,…

bukan dengan harta yang melimpah ,..

tapi kasih sayang yang selalu tercurah …

Itulah keluarga yang selalu mendapat berkah ….

 

menangis bukanlah bukanlah berarti kita pasrah …..

biarkan rasa itu tumpah ….

Takkan kering telaga di hatimu  ,..

hanya karena kau telah salah mengalirkan sungai kasihmu ….

Biarkan saja aliran sungai itu , …..
Biarkan semakin banyak benih yang tersemai ……

 

keruhnya telaga hati hanya sementara …

Kesedihan hanyalah sisi lain dari bahagia ….

biarkan gejolak telaga hatimu mereda ……

maka dia akan sebening embun dan berkilau terkena sinaran bulan ….

 

 Harapan itu dan tiada pernah tenggelam dan padam  ,….

Hanya sinarannya masih temaram …..

 Jadikanlah dirimu laksanan bintang …..

Yang jauh tinggi diangkasa tetapi kelihatan rendah dipermukaan  telaga   …

indah berkialauan sinarannya di permukaan dan selalu  memberi keindahan malam  …

 

 

 

Tunjung tanpa selaga, 15 October 2008

Masih Adakah Ramadhan

Kawan entah kenapa hati ini resah ……

Nurani  gelisah terbakar amarah ….

Ramadhan sudah  pergi,… tapi dosa dihati belum juga terkikis,….

Egoku semakin liar dan bergerak tak simetris ….

Menembus batas ruang dan garis batas dari iman yang menipis

 

Dimana ketenangan dan kemana terbangnya birunya nurani …

Tiada kebanggaan yang bisa ku kibarkan,…

Tiada ceceran dah serpihan ego yang telah kutundukan selama ramadhan ….

Yang kurasakan di ramadhan ini malah semakin jauh tenggelam dalam dosa,..

Hanya kepala yang terunduk lesu ,.. akankah ada ramadhan di hari esok untukku ……

 

Kawan tahukah engkau  Lautan dah mulai bertambah ketinggiannya,…

Tapi semakin tinggi juga jarak antara insan dengan kekasihnya  …..

Tiada detik terlewat dengan dosa yang kita torehkan  ,……

Dunia semakin muram dengan goresan luka karena dosa kita…..

Akankah ramadhan kali ini telah bisa menghilangkan duka bumi kita….

 

Aku juga tahu udara dah semakin menipis,….

Tapi aku juga heran  iman yang selama ini ku simpan juga ikut menipis ,….

Tinggal hati berbalut ego yang menyesakkan dada,….

Akankah magfirah dan barokah kureguk setelah ramadhan yang terluka ,…

Cukupkah  kesadaran hati kita untuk mendapatkan hidayahNya …..

Selama kita masih berbuat nista …..

 

Kesadaran ku dah lama tergadai oleh nafsu duniawi,…

Membuat Nafs ku mati suri ,….

Hidup masih harus dijalani tapi nurani tlah terkubur di dalam bumi …

 

Ku akui kehidupanku  ini memang masih dalam perjalanan yang tak abadi ,..

Tapi sebuah perjalanan yang tidak berakhir selama nafs mengakar di dada…… Perjalanan tak berujung jika nafsu masih menggelora ….

Membuat  Qolbu tersekat dari birunya  nurani ….

 

Perjalanan dunia hanyalah pengembaraan yang tak berujung ,….

Kau berjalan kebarat engkau juga akan kembali dari timur…..

Jika tiada kebeningan hati yang menemani….

Hanya kenistaan yang kau dapati ….

 

Perputaran kehidupan yang kadang terasa indah ,.. bagai mentari pagi ….

kadang terasa melelahkan dan menjemukan disaat terik mentari membakar ….

Ilmu yang kusadap dari alam,…..  keindahan yang kucuri dari semesta,….

belum menyadarkan ku dari kebutaan nurani ….

Yang kulihat terasa kelam, hitam dan memekatkan cahaya nurani …

 

Kuingin keheningan mereguk sukma ,….

Ketenangan yang membawa aroma nirwana …..

Keheningan yang menelan kesunyian,…

Bukan kesenyapan yang ingin terjadi dan kulalui ….

Tapi keheningan hakiki yang mengitari hatinurani …..

Seperti bias sinar mentari yang menerpa embun pagi …
Yang bersinar indah dan menyejukan hati ,….

 

 

Bekasi ,..  10 October 2008

By Bambang

 

 

 

 

 

RAMADHAN SUDAH SEPARUH PERJALANAN

 

Kehangatan mentari masih setia membelai bumi pertiwi …..
Entah kenapa aku merasa  sang ibu pertiwi bersedih hati ….
Kenapa engkau bersedih duhai ibu ……

Tidakkah kau rasakan itu ibu …………
Kegembiraan kami semua …
Suka cita dalam menyambut datangnya lebaran  …….
Baju baru , makanan , minuman hidangan  dan perhiasan sudah kami persiapkan …

Sayup sayup kudengar bisikmu …….
Kau salah anakku ……
Nak …… Hari ini Ramadhan sudah seperuh perjalanan …..
Ramadhan telah berkemas dan bersiap menenteng Magfirahnya  ……
Dia akan meninggalkan kita semua …..
Akankah ada Ramadhan di tahun depan ….
Tidakkah kau merasa kehilangan  ,….anakku ….
Ma’afkan aku ibu ,……. 
Aku belum bisa seperti ibu …..

Sudah separuh ramadhan yang kulalaui …..
Tapi tiada bekas kerinduan dihati akan kehadirannya …..
Tiada kurasa kerinduan akan Ramadhan yang begitu menyayat hati …..
Bagaikan saat sang Rama kehilangan Sinta …..
Kemanakah nurani yang menghiasi relung hati …..
Entah kenapa Hati ini tidak terasa sedih saat Ramadhan tlah mau pergi …

Puasa memang telah kujalani …….
Rasa dahaga dan lapar memang tidak mengganggu diri ini ……
Kata orang  dengan menahan raga ini akan mengembalikan Nafs dan nurani  …..
Kenapa detak nadi dan detak Jantung ini belum bisa seirama tuk berucap asma Illahi …
Sedemikian beku kah hati ini …….

Syaitan memang tlah kau ikat dengan kuat ,….
Ma’afkan aku ya Rabb ,…. diri yang tak bisa  mengikat nafsu laknat …..
Dibulan yang penuh berkah ini hamba belum bisa mengambil manfaat…..
Ma’afkan atas kedunguan rasio dan kebekuan hati yang berkarat …..

Ya Rabb ,… yang Rahman dan Rahiim,…. Pada – Mu aku meminta
Semoga diseparuh waktu tersisa ,…  hamba bisa mendapat barokahMu …..
Hingga hamba bisa lebih tulus dalam sujud untuk Mu ….
Dan Tiada kelu di lidahku tuk menyebut  keagungan Mu ….

Semoga kerinduan ku akan Ramadhan seperti kerinduan bumi akan air hujan di kemarau ,…..
Kerinduan yang bisa menampung semua cucuran kasih dan Rahmat mu…..
Kerinduan yang bisa mencuci legamnya hati ini ….
Kerinduan ramadhan yang bisa menacairkan hati yang membeku oleh nafsu ….

Semoga  magfirah-Mu bisa digapai oleh  diriku, …
Lapangkanlah Nafs , Qolbu  dan rasioku  ……
Untuk bisa menampung barokah Mu yang tercurah untuk mahluk Mu….
Semoga masih ada Ramadhan di tahun depan untukku

Astagfirullah robbal barooyaa ,….. Astagfirullah minal khotooyaa …
Robbi Zidhnii ‘ilman naafi’aa
Wa waafiqlii ‘amalan magbuullaan
Wa waahablii rizqon waasi’aa
Watub ‘alaiya taubatan nasuuhaa
Watub ‘alaiya taubatan nasuuhaa

Astagfirullah robbal barooyaa ,….. Astagfirullah minal khotooyaa …
Assalaum alaikum ,…. Ya Alaikum salam …..
Wa’idayah shodaqol amin ,…. ya Ridhonullohi Sholihiin …..

 

By ; Bambang
Bekasi, September 18, 2008